Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Maret 2014
4 Jenis Ayam Hutan Langka di Dunia
Ayam hutan adalah nama umum bagi jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Dalam bahasa Jawa disebut dengan nama ayam alas, dalam bahasa Madura ajem alas, dan dalam bahasa Inggris junglefowl; semuanya merujuk pada tempat hidupnya dan sifatnya yang liar.
Ragam Jenis dan penyebarannya ada empat spesies ayam hutan yang menyebar mulai dari India, Sri Lanka sampai ke Asia Tenggara termasuk Kepulauan Nusantara. Keempat spesies itu adalah:
1. Ayam hutan merah (Gallus gallus Red junglefowl)

Ayam-hutan merah atau dalam nama ilmiahnya Gallus gallus adalah sejenis burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 78cm, dari suku Phasianidae. Ayam betina berukuran lebih kecil, dengan panjang sekitar 46cm. Ayam-hutan jantan memiliki bulu-bulu leher, tengkuk dan mantel yang panjang meruncing berwarna kuning coklat keemasan dengan kulit muka merah, iris coklat, bulu punggung hijau gelap dan sisi bawah tubuh berwarna hitam mengilap. Dikepalanya terdapat jengger bergerigi dan gelambir berwarna merah. Ekornya terdiri dari 14 sampai 16 bulu berwarna hitam hijau metalik, dengan bulu tengah ekor yang panjang dan melengkung ke bawah. Kaki berwarna kelabu dengan sebuah taji. Ayam betina memiliki kaki tidak bertaji, bulu-bulu yang pendek, berwarna coklat tua kekuningan dengan garis-garis dan bintik gelap.
Ayam-hutan merah tersebar luas di hutan tropis dan dataran rendah di benua Asia, dari Himalaya, Republik Rakyat Cina selatan, Asia Tenggara, hingga ke Sumatra dan Jawa. Ada lima subspesies yang dikenali. Di Indonesia, subspesies G. g. bankiva ditemukan di Jawa, Bali dan Sumatra.
Ayam-hutan merah tersebar luas di hutan tropis dan dataran rendah di benua Asia, dari Himalaya, Republik Rakyat Cina selatan, Asia Tenggara, hingga ke Sumatra dan Jawa. Ada lima subspesies yang dikenali. Di Indonesia, subspesies G. g. bankiva ditemukan di Jawa, Bali dan Sumatra.
2. Ayam Hutan Srilangka (Gallus Lafayetii Srilangka junglefowl)
3. Ayam Hutan Kelabu (Gallus Sonneratii Grey junglefowl)

Ayam hutan kelabu atau Gallus sonneratii adalah salah satu dari empat spesies ayam hutan. Ayam ini berukuran sedang, dengan panjang sekitar 80cm, dari suku Phasianidae. Ayam betina berukuran lebih kecil, dengan panjang sekitar 38cm.
Ayam hutan jantan memiliki bulu-bulu leher, tengkuk dan mantel berwarna kelabu berbintik hitam-putih dengan kulit muka merah, bercak putih di telinga, paruh kuning kecoklatan, iris mata kuning, ekor hitam keunguan dengan bulu tengah ekor yang panjang dan melengkung ke bawah. Sisi bawah tubuh berwarna kelabu bergaris putih dan kakinya berwarna kuning kemerahan terang dengan sebuah taji. Ayam betina memiliki kaki tidak bertaji, bulu-bulu yang pendek, berwarna coklat tua dengan bulu-bulu seperti sisik berwarna putih kecoklatan di bagian sisi bawah tubuh.
Ayam hutan kelabu tersebar dan endemik di hutan tropis bercuaca kering di India bagian tengah, barat dan selatan. Ayam betina biasanya menetaskan antara tiga sampai lima butir telur berwarna putih atau putih kemerahan yang dierami oleh induk betina selama kurang lebih tiga minggu.
Ayam hutan kelabu tersebar dan endemik di hutan tropis bercuaca kering di India bagian tengah, barat dan selatan. Ayam betina biasanya menetaskan antara tiga sampai lima butir telur berwarna putih atau putih kemerahan yang dierami oleh induk betina selama kurang lebih tiga minggu.
4. Ayam Hutan Hijau (Gallus Varius Green junglefowl)

Ayam hutan hijau adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang ada di Nusantara. Ayam ini disebut dengan berbagai nama di berbagai tempat, seperti canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas (Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.).
Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya.
Burung yang berukuran besar, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60 cm pada ayam jantan, dan 42 cm pada yang betina. Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya.
Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya; merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel hijau berkilau dengan tepian (margin) kehitaman, nampak seperti sisik ikan. Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang meruncing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam betina lebih kecil, kuning kecoklatan, dengan garis-garis dan bintik hitam.
Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan.
Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.
sumber
Jumat, 14 Februari 2014
Ayah dan Anak Ditemui Hidup di Hutan Setelah 40 Tahun Menghilang
9 Ogos 2013
Foto: Dailymail
Vietnam - Sungguh mengejutkan. Seorang ayah dan anak ditemui hidup di hutan rimba Vietnam selama empat dekade. Mereka sebelumnya dinyatakan hilang ketika terjadi perang antara negara itu dengan Amerika Syarikat.
Seperti dilansir dari Dailymail, Jumaat (9/8/2013), dua lelaki itu adalah Ho Van Thanh (82), dan Ho Van Lang (41). Mereka ditemui oleh penduduk setempat ketika mencari kayu bakar di hutan tebal di Daerah Tay Tra, Provinsi Quang Ngai.
Otoriti setempat mengatakan, 40 tahun lalu isteri dan dua anak Ho Van Thanh meninggal akibat satu ledakan di lombong di masa-masa perang Vietnam. Ia pun shock berat akibat kejadian tersebut.
Ho Van Thanh pun memutuskan untuk lari ke hutan belantara, dan meninggalkan rumahnya di dusun Tra Kem. Dia membawa puteranya yang masih hidup Ho Van Lang, yang ketika itu berusia dua tahun.
Semenjak pelarian itu, Ho Van Thanh dan puteranya tak pernah melakukan perhubungan dengan orang lain. Mereka menetap di hutan rimba dengan mendirikan sebuah pondok kayu setinggi lima meter dari atas tanah.
Ho Van Thanh dan puteranya hanya mengenakan cawat yang terbuat dari kulit pohon untuk melindungi tubuhnya. Meski demikian, mereka boleh bertahan hidup selama 40 tahun dengan mencari makan seadanya di hutan rimba itu.
Ho Van Thanh dan puteranya itu ditemui secara tak sengaja oleh warga yang hendak mencari kayu bakar. Warga yang melihat penampilan dan tingkah mereka yang tak normal kemudian melapor kepada pihak polis setempat.
Kemudian dibentuklah sebuah pasukan untuk melacak keberadaan Ho Van Thanh dan puteranya. Setelah dilakukan pencarian selama lima jam, mereka pun akhirnya ditemukan. Keduanya lalu dibawa ke luar dari hutan rimba tersebut.
Ho Van Thanh masih boleh sedikit bicara bahasa Kor, bahasa setempat. Namun anaknya, hanya mengetahui beberapa patah perkataan. Bapak dan anak itu ketika ini sedang mendapat penanganan medis di rumah sakit. Setelah dinilai siap, keduanya akan diajarkan lagi bergaul dengan masyarakat.
Seperti dilansir dari Dailymail, Jumaat (9/8/2013), dua lelaki itu adalah Ho Van Thanh (82), dan Ho Van Lang (41). Mereka ditemui oleh penduduk setempat ketika mencari kayu bakar di hutan tebal di Daerah Tay Tra, Provinsi Quang Ngai.
Otoriti setempat mengatakan, 40 tahun lalu isteri dan dua anak Ho Van Thanh meninggal akibat satu ledakan di lombong di masa-masa perang Vietnam. Ia pun shock berat akibat kejadian tersebut.
Ho Van Thanh pun memutuskan untuk lari ke hutan belantara, dan meninggalkan rumahnya di dusun Tra Kem. Dia membawa puteranya yang masih hidup Ho Van Lang, yang ketika itu berusia dua tahun.
Semenjak pelarian itu, Ho Van Thanh dan puteranya tak pernah melakukan perhubungan dengan orang lain. Mereka menetap di hutan rimba dengan mendirikan sebuah pondok kayu setinggi lima meter dari atas tanah.
Ho Van Thanh dan puteranya hanya mengenakan cawat yang terbuat dari kulit pohon untuk melindungi tubuhnya. Meski demikian, mereka boleh bertahan hidup selama 40 tahun dengan mencari makan seadanya di hutan rimba itu.
Ho Van Thanh dan puteranya itu ditemui secara tak sengaja oleh warga yang hendak mencari kayu bakar. Warga yang melihat penampilan dan tingkah mereka yang tak normal kemudian melapor kepada pihak polis setempat.
Kemudian dibentuklah sebuah pasukan untuk melacak keberadaan Ho Van Thanh dan puteranya. Setelah dilakukan pencarian selama lima jam, mereka pun akhirnya ditemukan. Keduanya lalu dibawa ke luar dari hutan rimba tersebut.
Ho Van Thanh masih boleh sedikit bicara bahasa Kor, bahasa setempat. Namun anaknya, hanya mengetahui beberapa patah perkataan. Bapak dan anak itu ketika ini sedang mendapat penanganan medis di rumah sakit. Setelah dinilai siap, keduanya akan diajarkan lagi bergaul dengan masyarakat.
sumber:detikNews
Kamis, 26 Desember 2013
Hutan Raje Mandare Yang Penuh Dengan Keanehan
Hutan Raje Mandare Yang Penuh Dengan Keanehan - Banyak sekali hal-hal aneh yang meliputi bumi ini. Hal-hal aneh selalu hadir baik pada manusia, maupun alam semesta ini. Salah satu bukti keanehan yang terjadi pada alam terjadi pada Hutan Raje Mandare yang berada di Indonesia
Selain ditemukan danau dengan permukaan air berwarna merah, di hutan Raje Mandare di perbatasan Bengkulu-Sumatera Selatan ini diketahui banyak keanehan.
Menurut Kasmidi, danau merah itu sendiri juga aneh, setidaknya menurut pengetahuannya. Sebab, meskipun airnya terlihat berwarna merah, tetapi kalau diciduk pakai tangan atau gayung, airnya terlihat biasa saja. Bening dan jernih.
Keanehan lain, kata Kasmidi, ada satu lokasi tak jauh dari danau yang menimbulkan aroma pandan bila malam hari. Hal itu tidak ditemukan pada lokasi lain.
Masih cerita Kasmidi, di hutan Raje Mandare juga ada sejumlah satwa raksasa. Misalnya, kelabang dengan lebar 30 cm dan panjangnya 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebahnya.
Yang mengherankan, pohon-pohon hutan yang tegak berdiri di atasnya pun seperti mempunyai tatanan tersendiri. Kalau tanah tempat pohon itu tumbuh masih masuk wilayah Tanah Basemah Pagar Alam, maka semua pohonnya miring ke arah Pagar Alam. Namun, kalau tempat tumbuhnya di Bengkulu, maka pohon-pohonnya miring ke arah Bengkulu pula, atau berlawanan dengan arah Pagar Alam.
Masih di daerah itu, semua jenis burung dan hewan hutannya cukup jinak, tidak takut terhadap manusia. Meski begitu, agar burung dan hewan tidak lari, pengunjung tidak boleh mengeluarkan suara atau berbicara.
"Ada hal lain yang kami temukan, seperti kelabang ukuran lebar 30 cm dan panjang 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebah atau tawon. Namun, kami tidak tahu apa saja yang tersimpan di daerah bukit Raje Mandare itu," ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Senibudaya setempat, Syafrudin, mengatakan, daerah Rimbacandi memang masih banyak menyimpan misteri yang hingga kini belum dapat terungkap, termasuk keberadaan bukit Raje Mandare yang banyak memiliki peninggalan sejarah.
Sayangnya, pihak pemerintah setempat masih terkendala dana untuk melakukan penelitian di daerah itu. Selain itu, juga ada keterbatasan tenaga ahli. Untuk itu, diperlukan studi lebih lanjut untuk mengungkap misteri Hutan Raje Mandare.
Langganan:
Postingan (Atom)